Home » , » Metode Penggambaran Tokoh dalam Karya Fiksi

Metode Penggambaran Tokoh dalam Karya Fiksi

Kata tokoh menyaran pada pengertian orang atau pelaku yang ditampilkan dalam sebuah karya fiksi. Adapun penokohan ialah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones melalui Nurgiyantoro, 1995: 84). Tokoh dapat pula diartikan sebagai orang-orang yang ditampilkan dalam sebuah cerita naratif atau drama, yang oleh pembaca ditampilkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam perbuatan (Abrams melalui Nurgiyantoro, 1995: 85). Ia adalah pelaku yang mengembangkan peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin sebuah cerita (Aminuddin, 1995: 79). Dengan demikian, penokohan memiliki cakupan orang yang ditampilkan dalam sebuah cerita fiksi dan penggambarannya.

Di samping kedua istilah di atas, sering pula digunakan kata watak dan perwatakan mengarah pada sifat dan sikap tokoh cerita. Watak lebih mengacu pada gambaran kualitas pribadi tokoh yang ditampilkan dalam sebuah cerita. Pelaku pelukisan rupa, watak atau pribadi tokoh dalam sebuah karya fiksi disebut perwatakan atau penokohan. Sedangkan karakterisasi, atau dalam bahasa Inggris characterization, berarti pemeranan, pelukisan watak. Minderop (2005:2) berpendapat bahwa karakterisasi adalah metode melukiskan watak para tokoh yang terdapat dalam suatu karya fiksi. Dengan kata lain, penokohan, perwatakan ataupun karakterisasi menyaran pada hal yang sama, cara melukiskan watak tokoh. Sumardjo (1988: 56) mengatakan dalam pelukisan karakter atau perwatakan yang baik adalah menggambarkan watak dalam setiap ceritanya, sehingga pembaca melihat dengan jelas watak pelakunya melalui semua tingkah laku, semua yang diucapkannya, semua sikapnya dan semua yang dikatakan orang lain tentang tokoh ini dalam seluruh cerita.

Subandi mengatakan (1978: 12), karakterisasi merupakan pola pelukisan image seseorang yang dapat dipandang dari segi fisik, psikis dan sosiologi. Segi fisik, pengarang melukiskan karakter pelaku misalnya, tampang, umur, raut muka, rambut, bibir, hidung, bentuk kepala, warna kulit dan lain-lain. Segi psikis, pengarang melukiskan karakter pelaku melalui pelukisan gejala-gejala pikiran, perasaan dan kemauannya. Dengan jalan ini pembaca dapat mengetahui bagaimana watak pelaku. Segi sosiologis, pengarang melukiskan watak pelaku melalui lingkungan hidup kemasyarakatan. Dapat disimpulkan, seorang tokoh dalam karya sastra yang memiliki bersifat lifelike, di samping selalu merupakan hasil penjelmaan fisiknya, juga merupakan hasil penjelmaan pengaruh-pengaruh lingkungannya. Oleh karena itu, dalam memahami tokoh, aspek-aspek yang melekat pada diri tokoh: seperti penamaan, peran, keadaan fisik, keadaan psikis, dan karakter perlu mendapat perhatian. Sebagaimana yang disinyalir Satoto (1993: 45), aspek-aspek itu akan saling berhubungan dalam upaya membentuk dan membangun permasalahan dan konflik dalam sebuah lakon. Mengabaikan salah satu dari ketiga dimensi itu, tokoh akan menjadi timpang atau tidak berkepribadian. Dengan demikian secara implisit untuk mengetahui suatu tokoh cerita perlu diketahui bagaimana teknik atau metode karakterisasi dipergunakan oleh penulis.

Melalui novel ini, Ahmad Tohari mengajak para pembacanya untuk dapat belajar merasakan dan menghayati berbagai permasalahan kehidupan yang sengaja ditawarkan melalui perjuangan para tokohnya dalam memaknai hidup dan berjuang mencari jati dirinya serta upaya para tokoh dalam mencapai kedudukan sebagai Insan Kam├Čl. Melalui novel ini juga, Ahmad Tohari ingin menyampaikan pesan tentang bagaimana beratnya perjuangan hidup manusia dalam memenuhi tugas dan tanggung jawabnya, baik sebagai khalifah Allah SWT di bumi, maupun sebagai ciptaan yang menyembah kepada Khaliqnya. Hal ini sesuai dengan adanya pranata yang berfungsi untuk memenuhi kebutuhan manusia untuk berbakti pada Tuhan dan berhubungan dengan alam.

Ada dua cara yang lazim dipergunakan untuk menampilkan tokoh di dalam cerita, yaitu dengan cara langsung dan tidak langsung. Ada pula yang membedakan cara-cara dalam menggambarkan tokoh tersebut, Sayuti (2000: 89) mengungkapkan, ada yang menjadikannya cara analitik dan dramatik, ada yang membedakannya menjadi metode langsung dan tak langsung, ada yang menbedakannya menjadi metode telling ‘uraian’ dan showing ‘ragaan’, dan ada pula yang membedakannya menjadi metode diskursif, dramatik, kontekstuat, dan campuran. Pembedaan yang berlainan itu sesungguhnya memiliki esesnsi yang kurang lebih sama.

Lebih lanjut, Sayuti (2000: 90-111) membagi cara penggambaran tokoh menjadi empat, yakni metode diskursi, metode dramatis, metode konseptual dan metode campuran. Metode diskurtif atau dengan cara langsung adalah cara yang ditempuh pengarang jika dia menggambarkan perwatakan tokoh-tokoh secara langsung. Kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaan dan ekonomisnya. Metode dramatis atau dengan cara tidak langsung adalah pelukisan tokoh secara tidak langsung. Ada tiga macam pelukisan tidak langsung terhadap kualitas tokoh, yaitu (1) teknik pemberian nama (naming), (2) teknik cakapan, (3) teknik pemikiran tokoh, (4) teknik stream of consciousness atau arus kesadaran, (5) teknik pelukisan perasaan tokoh, (6) perbuatan tokoh, (7) teknik sikap tokoh, (8) pandangan seorang atau banyak tokoh terhadap tokoh lain, (9) pelukisan fisik, (10) pelukisan latar.

Metode kontekstual hampir sama dengan tekhnik pelukisan latar. Dikatakan demikian karena yang dimaksud dengan metode kontekstual ialah cara menyatakan karakter tokoh melalui konteks verbal yang mengelilinginya, sedangkan metode campuran adalah penggunaan berbagai metode dalam menggambarkan karakteristik tokoh. Menurut Minderop (2005: 3), karakterisasi tokoh dapat ditelaah dengan lima metode yakni, metode langsung (telling), metode tidak langsung (showing), metode sudut pandang (point of view), metode telaah arus kesadaran (stream of consciousness), dan metode telaah gaya bahasa (figurative language).

Metode telling mengandalkan pemaparan watak tokoh pada eksposisi dan komentar langsung dari pengarang. Melalui metode ini keikutsertaan atau turut campurnya pengarang dalam menyajikan perwatakan tokoh sangat terasa, sehingga pembaca memahami dan menghayati perwatakan tokoh berdasarkan paparan pengarang. Metode showing memperlihatkan pengarang menempatkan diri di luar kisahan dengan memberikan kesempatan kepada para tokoh untuk menampilkan perwatakan mereka melalui dialog percakapan dan tindakan; tingkah laku tokoh. (Minderop, 2005: 2-50) Berikut adalah penjelasan mengenai metode langsung dan tidak langsung.

1. Metode Langsung (telling)

Metode pemaparan karakter tokoh yang dilakukan secara langsung oleh si pengarang. Metode ini biasanya digunakan oleh kisah-kisah rekaan zaman dahulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan pengarang semata Pada metode ini, karakterisasi dapat melalui penggunaan nama tokoh, penampilan tokoh, dan tuturan pengarang. Penggunaan nama tokoh dugunakan untuk memperjelas dan mempertajam perwatakan tokoh serta melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain.

Dalam suatu karya sastra, penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh yang dimaksud misalnya, pakaian apa yang dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Pemberian rincian tentang cara berpakaian memberikan gambaran tentang pekerjaan, status sosial, dan bahkan derajat harga dirinya.

Karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang atau narator dalam menentukan kisahannya. Pengarang tidak sekadar menggiring perhatian pembaca terhadap komentarnya tentang watak tokoh, tetapi juga mencoba membentuk presepsi pembaca tentang tokoh yang dikisahkannya (Minderop, 2005: 8). Kelemahan dari metode ini adalah sifat mekanismenya yang menciutkan partisipasi imajinatif pembaca, sedangkan kelebihan metode ini terletak pada kesederhanaan dan ekonomisnya (Sayuti, 2000: 90).

Minderop membagi metode karakterisasi ini mencakup: (a) Karakterisasi melalui penggunaan nama tokoh (characterization through the use of names), (b) Karakterisasi melalui penampilan tokoh (characterization through appearance), (c) karakterisasi melalui tuturan pengarang (characterization by the author).
Nama tokoh dalam suatu karya sastra sering kali digunakan untuk memberikan ide atau menumbuhkan gagasan, memperjelas ide serta mempertajam perwatakan tokoh. Para tokoh diberikan nama yang melukiskan kualitas karakteristik yang membedakannya dengan tokoh lain. Penggunaan nama dapat pula mengandung kiasan (allusion) susastra atau historis dalam bentuk asosiasi. Selain itu penggunaan nama juga dapat dalam bentuk ironi yang dikarakterisasikan melalui inversion (kebalikannya).
Faktor penampilan para tokoh memegang peranan penting sehubungan dengan telaah karakterisasi. Penampilan tokoh dimaksud misalnya, pakaian apa yang dikenakannya atau bagaimana ekspresinya. Rincian penampilan memperlihatkan kepada pembaca tentang usia, kondisi fisik/kesehatan dan tingkat kesejahteraan si tokoh. Sesungguhnya perwatakan tokoh melalui penampilan tidak dapat disangkal tekait pula kondisi psikologis tokoh dalam cerita rekaan.

Metode perwatakan yang menggunakan penampilan tokoh memberikan kebebasan kepada pengarang untuk mengekspresikan persepsi dan sudut pandangnya. Secara subjektif pengarang bebas menampilkan appearance para tokoh. Namun demikian, terdapat hal-hal yang sifatnya universal, misalnya untuk menggambarkan seorang tokoh dengan watak positif (bijaksana, elegan, cerdas), biasanya pengarang menampilkan tokoh yang berpenampilan rapi dengan sosok yang proporsional.
Metode karakterisasi melalui tuturan pengarang memberikan tempat yang luas dan bebas kepada pengarang atau narator dalam menentukan kisahannya. Pengarang berkomentar tentang watak dan kepribadian para tokoh hingga menembus ke dalam pikiran, perasaan dan gejolak batin sang tokoh.


2. Metode Tidak Langsung (showing)

Metode yang mengabaikan kehadiran pengarang sehingga para tokoh dalam karya sastra dapat menampikan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka. Pada metode ini, karakterisasi dapat mencakup enam hal, yaitu karakterisasi melalui dialog; lokasi dan situasi percakapan; jatidiri tokoh yang dituju oleh penutur; kualitas mental para tokoh; nada suara, tekanan, dialek, dan kosa kata; dan karakterisasi melalui tindakan para tokoh. Pembaca harus memperhatikan substansi dari suatu dialog. Apakah dialog tersebut sesuatu yang terlalu penting sehingga dapat mengembangkan peristiwa-peristiwa dalam suatu alur atau sebaliknya.

a. Karakterisasi melalui Dialog

1. Apa yang dikatakan penutur

Sebagaimana dinyatakan oleh Pickering dan Hoeper dalam halaman 32: pertama-tama pembaca harus memperhatikan substansi dari suatu dialog. Apakah dialog tersebut sesuatu yang terlalu penting sehingga dapat mengembangkan peristiwa-peristiwa dalam suatu alur atau sebaliknya.

2. Jatidiri penutur

Jatidiri penutur disini adalah ucapan yang disampaikan oleh seorang protagonis (tokoh sentral) yang seyogyanya dianggap lebih penting daripada yang diucapkan oleh tokoh bawaan (tokoh minor), walaupun percakapan tokoh bawaan kerap kali memberikan informasi krusiel yang tersembunyi mengenai watak tokoh lainya.

b. Lokasi dan situasi percakapan

Dalam kehidupan nyata, percakapan yang berlangsung secara pribadi dalam suatu kesempatan di malam hari biasanya lebih serius dan lebih jelas daripada percakapan yang terjadi di tempat umum pada siang hari. Bercakap-cakap di ruang duduk keluarga biasanya lebih signifikan daripada berbincang di jalan atau di teater.

c. Jatidiri tokoh yang dituju oleh penutur

Penutur disini berarti tuturan yang disampaikan tokoh dalam cerita. Maksudnya tuturan yang diucapkan tokoh tertentu tentang tokoh lainnya.

d. Kualitas mental para tokoh

Kualitas mental para tokoh dapat dikenal melalui alunan dan aliran tuturan ketika para tokoh bercakap-cakap.

e. Nada Suara, tekanan, dialek dan kosa kata

Nada suara tekanan dialek dan kosa kata dapat membantu memperjelas karakter para tokoh apabila pembaca mampu mengamati dan mencermatinya secara tekun dan sungguh-sungguh.
  1. Nada suara , walaupun diekspresikan secara eksplisit atau implisit dapat memberikan gambaran kepada pembaca watak si tokoh apakah ia seorang yang percaya diri, sadar akan dirinya pemalu. Demikian pula sikap ketika si tokoh bercakap-cakap dengan tokoh lain ( Pickering dan Hoeper, 1981:33 melalui Minderop : 34).
  2. Tekanan penekanan suara memberikan gambaran penting tentang tokoh karena memperlihatkan keaslian watak tokoh bahkan merefleksikan pendidikan, profesi dan dari kelas mana si tokoh berasal. (Pickering dan Hoeper, 1981:34 ) dalam (Minderop : 36)
  3. Dialek dan kosa kata memberikan fakta penting tentang seorang tokoh karena karena keduanya memperlihatkan keaslian watak tokoh bahkan dapat mengungkapkan pendidikan, profesi, dan status sosial si tokoh .

f. Melalui tindakan para tokoh

Selain melalui tuturan, watak tokoh dapat diamati melalui tingkah-laku. Tokoh dan tingkah laku bagaikan dua sisi pada uang logam. Menurut Henry James, sebagaimana dikutip oleh Pickering dan Hoeper, menyatakan bahwa perbuatan dan tingkah laku secara logis merupakan pengembangan psikologi dan kepribadian .
  1. Melalui tingkah laku untuk membangun watak dengan landasan tingkah laku, pening bagi pembaca untuk mengamati secara rinci berbagai peristiwa dalam alur cerita, karena peristiwa tersebut dapat dapat mencerminkan watak para tokoh, kondisi emosi dan psikis.
  2. Ekspresi wajah bahasa tubuh (gesture) biasanya tidak terlalu signifikan bila dibandingkan dengan tingkah laku.
« Prev Post Next Post » Beranda

Tokoh Penemu Terpilih

Artikel Menarik !

 
"Indahnya Berbagi Walau Hanya Selembar Kertas Bekas"
hibahkan Skripsi, Tesis, Jurnal, Buku, untuk disalurkan ke yang membutuhkan melalui website kami. dengan cara mengrimkan softcopy ke email: bukukerjakita@gmail.com

COPYRIGHT © 2014. ALL RIGHTS RESERVED
[Valid Atom 1.0]