Home » , » Mengenal Meta-Teori sebagai Landasan untuk Memilih Teori

Mengenal Meta-Teori sebagai Landasan untuk Memilih Teori

Meta-teori merupakan filsafat yang ada di balik sebuah teori, berkaitan erat dengan pengertian paradigma. Dalam hal ini maka meta-teori dapat dikatakan sebagai bagian dari proses pengembangan pemikiran seorang peneliti yang kemudian menentukan tahap-tahap berikutnya dalam kegiatan ilmiah, termasuk tahap pemilihan teori yang akan digunakan. Begitu pula Rioux (2010) mengartikan meta-teori memang lebih luas dari teori, tetapi juga lebih sempit dari paradigma, sebab sebuah paradigma (sebagaimana diartikan oleh Thomas Kuhn) merupakan kesepakatan yang melibatkan seluruh komunitas ilmuwan di bidang tertentu. Sementara meta-teori lebih merupakan asumsi-asumsi spesifik yang diambil seorang peneliti terhadap fenomena yang hendak ditelitinya. Mengutip Brenda Dervin11, Rioux menyarikan pengertian meta-teori sebagai serangkaian asumsi tentang hakikat realita dan manusia (ontology), hakikat dari mengetahui (epistemology), tujuan teori dan riset (teleology), nilai dan etika (axiology); dan hakikat dari kekuasaan (ideology). Dengan kata lain, meta-teori adalah landasan pemikiran yang lebih fundamental dari teori, sebagai kerangka dasar bagi penelitian, pemikiran dan pembicaraan tentang sebuah fenomena.

Foto: illustrasi
Pengertian dari Dervin yang dikutip Rioux di atas membawa kita kembali ke bagian awal tulisan, khususnya ke pendapat Best (2004) tentang perlunya memperhatikan elemen ontologi dan epistemologi di dalam sebuah teori. Dalam konteks ini, baik Dervin maupun Best sebenarnya berbicara tentang hal-hal yang mendasari sebuah keputusan untuk melakukan penelitian dengan menggunakan teori tertentu. Kita tahu bahwa ontologi dan epistemologi adalah dua istilah yang dipakai dalam filsafat ilmu; ontologi untuk membahas aspek “apa” yang diteliti, sementara epistemologi membahas bagaimana manusia (dalam hal ini peneliti) memperoleh pengetahuan dari penelitian terhadap “apa” itu. Setiap ilmuwan menggunakan keduanya sebagai semacam argumentasi dasar untuk membenarkan keputusan mereka meneliti suatu fenomena, sekaligus menegaskan batas-batas fenomena itu serta cara atau metode yang akan mereka gunakan untuk menelitinya. Seringkali argumentasi dasar ini tidak muncul secara eksplisit atau menonjol dalam laporan penelitian, sebab yang lebih kentara terlihat adalah teori-teori yang digunakan dalam penelitian. Namun semua ilmuwan pada dasarnya memiliki pandangan spesifik tentang objek yang mereka teliti dan bagaimana mereka akan menelitinya.

Dervin dan Best juga menyebut aspek tujuan penelitian, solusi yang ingin dihasilkan, dan nilai-nilai di masyarakat yang mungkin memengaruhi jalannya sebuah penelitian. Dalam sebuah laporan penelitian – baik di lingkungan akademik maupun di lingkungan yang lebih luas – hal-hal ini biasanya muncul di bagian “latar belakang” atau di bagian awal yang merupakan pengantar (introduksi) ke bagian-bagian selanjutnya. Ini semata memperlihatkan bahwa sebuah penelitian memang bukan hanya persoalan penggunaan teori, tetapi juga alasan mengapa sebuah teori digunakan dan apa sumbangannya pada pencapaian tujuan penelitian. Sekaligus juga terlihat bahwa sebuah penelitian pada akhirnya tak dapat dilepaskan dari situasi dan kondisi di mana penelitian itu diadakan; untuk memastikan bahwa sebuah ilmu tidak “mengawang-awang” atau tetap kontekstual dengan realita dan kebutuhan masyarakatnya. Inilah yang juga menjadi bagian dari meta-teori.

Secara lebih praktis, Mittroff dan Betz (1972) pernah mengatakan bahwa sebuah meta-teori memberikan tiga tuntunan kepada peneliti, yaitu (1) membantu peneliti memilih sebuah masalah yang cocok untuk penelitiannya, (2) membantu peneliti menguraikan berbagai elemen yang berkaitan dengan masalah penelitian tersebut, dan (3) menyediakan kriteria yang dapat digunakan untuk membuat kesimpulan atau menawarkan solusi pemecahan terhadap masalah. Sekali lagi, hal-hal ini biasanya ditulis di bagian latar-belakang atau di bagian awal sebuah proposal penelitian (ketika sebuah penelitian diajukan) dan laporan penelitian (ketika penelitian sudah selesai). Pada bagian inilah seorang peneliti menyampaikan hal-hal yang telah ia ketahui, yang menjadi pendukung dasar atau alasan kuat baginya untuk meneliti12. Pengertian praktis ini juga digunakan dalam penelitian sistem informasi, sebagaimana dijelaskan Bostrom, Gupta, dan Thomas (2009) yang menggunakan meta-teori sebagai garis- besar (outline) untuk membantu peneliti memetakan berbagai konsep dan kaitan antar konsep yang berkaitan dengan sebuah masalah tertentu. Itulah sebabnya, meta-teori cenderung bersifat umum dan berupa garis-besar permasalahan. Itu pula sebabnya, meta-teori juga berperan dalam sebuah bidang yang kompleks (rumit) dan mengandung banyak percabangan.

Salah satu contoh penggunaan meta-teori yang sekaligus menuntun secara praktis dan menjadi kerangka-dasar dari pelaksanaan penelitian dapat dilihat di bidang psikologi yang saat ini semakin kompleks dan bercabang-cabang. Misalnya, Shoda dan Mischel (2006) menjelaskan bagaimana meta-teori digunakan sebagai kerangka yang membantu seorang peneliti melihat kaitan antara persoalan psikologis yang sedang ia teliti (dalam hal ini dicontohkan sebuah penelitian tentang penderita hiperaktivitas, ADHD) dan struktur protein di tubuh manusia. Tanpa bantuan meta-teori tentang hubungan antara psikologi dan biologi molekular, peneliti akan kesulitan menetapkan batas-batas permasalahan yang akan ditelitinya. Meta-teori seperti ini juga memungkinkan peneliti psikologi menggunakan teori-teori dari bidang lain, yaitu biologi. Contoh lain lagi adalah ketika Badcock (2012) mencoba mengintegrasikan berbagai pemikiran di dalam psikologi, khususnya antara pemikiran baru beraliran Darwin (dikenal dengan sebutan neo-Darwinian selectionist thinking) dan pemikiran sistem sebagai sesuatu yang dinamis (dynamic systems theory). Apa yang dilakukan Badcock ini menjadi bagian dari meta-teori di bidang psikologi dan akan membantu para peneliti menentukan permasalahan yang akan mereka teliti, sekaligus menuntun mereka pada pemilihan teori-teori yang relevan dari berbagai bidang lain seperti teori evolusi manusia dan teori sistem.

Contoh dari bidang psikologi di atas sengaja dipilih, sebab bidang IP&I juga memperlihatkan perkembangan yang semakin kompleks dan bercabang. Berbagai upaya sudah pernah dilakukan untuk menemukan pondasi ilmu ini sekaligus percabangannya. Salah satu upaya terbaru membahas pondasi IP&I dan percabangannya ini misalnya dilakukan Tomic (2010). Ia mengelompokkan berbagai penelitian IP&I sesuai fokus perhatiannya. Masing-masing kelompok atau pusat perhatian ini kemudian memiliki landasan atau meta-teori sendiri. Pada gilirannya, walaupun meta-teori mereka berbeda-beda, ada satu landasan yang menyatukannya, yaitu filsafat ilmu. Jika disederhanakan, pengelompokkan Tomic ini dapat dilihat dalam bentuk tabel berikut:

Bidang
penelitian
Temu kembali
informasi, organi- sasi informasi, manajemen pe- ngetahuan
Perilalu pencarian
dan    penggunaan informasi
Bibliometrika
Literasi informasi
Meta-teori
Filsafat/teori epis-
temologi, teori lo- gika, teori onto- logi, filsafat/teori bahasa
Teori argumentasi
dan persuasi (ba- gian dari filsafat logika), teori ten- tang struktur kog- nisi, teori diso- nansi kognitif,
Teori/konsep
yang mengaitkan distribusi sumber- daya ekonomi dengan perkem- bangan ilmu, indi- kator kualitas il- mu, dan produksi karya ilmiah.
Teori/konsep ten-
tang pemrosesan informasi, berpi- kir kritis (critical thinking) dan ber- pikir kreatif (cre- ative thinking),
Landasan
filsafat

Filsafat Informasi (Philosophy of Information)

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa Tomic membuat empat “aliran” dalam penelitian IP&I. Keempat aliran tersebut menggunakan berbagai pembahasan meta- teoritis sebagai penopangnya. Lalu, sebagai landasan utama dari semua meta-teori tersebut, Tomic menyebutnya filsafat informasi. Empat aliran itu mencerminkan pusat perhatian atau bidang penelitian IP&I selama ini. Walaupun kesahihan pembagian itu masih dapat diperdebatkan, namun setidaknya Tomic membantu kita memahami kaitan antara bidang perhatian, meta-teori, dan landasan filsafat. Kita akan bicarakan soal landasan filsafat ini lebih lanjut nanti. Mari kita selesaikan dulu pembahasan tentang metateori.

Sebagaimana dikutip di awal bagian ini, Rioux (2010) juga menyatakan bahwa sebenarnya para pemikir di bidang IP&I sudah sejak lama selalu mempersoalkan meta-teori dan landasan filsafat. Ia merujuk ke Bates (2006) yang menganjurkan agar peneliti IP&I mempertimbangkan pemikiran-pemikiran yang mendasari pendekatan dan teori tertentu sewaktu meneliti. Dalam hal ini meta-teori diartikan sebagai ".. the fundamental set of ideas about how phenomena of interest in a particular field should be thought about and researched" (Bates, 2006, hal. 2). Sementara Molazem (2011) mencoba melacak lebih ke belakang lagi, dan menemukan bahwa selalu ada pembicaraan tentang apa yang ia sebut sebagai philosophical thinking dalam IP&I sejak 1930-an, misalnya di tulisan-tulisan Joseph Periam Danton13 tahun 1930-an. Molazem mengutip pernyataan Danton bahwa, “Philosophy of librarianship is a pursuit of truth, principles guiding action, and theories explaining reality: What is known, how it is put to work, and for what purpose it exists.” Dari pernyataan ini terlihat bahwa IP&I memang berakar pada filsafat tentang pengetahuan dan penggunaan meta-teori sudah lama dibicarakan di kalangan peneliti IP&I.


Rioux juga menyebutkan bahwa semakin lama semakin banyak pembicaraan tentang terbuka tentang penggunaan meta-teori “pinjaman” dari bidang lain, khususnya dari bidang sosial-budaya, untuk membangun teori yang akan digunakan dalam penelitian IP&I. Rioux menyebut di antaranya adalah fenomenologi (phenomenology) yang sering dipinjam untuk mengembangkan teori kehidupan informasi sehari-hari (everyday information practices), aspek afektif dalam informasi (affective aspects of information), dan kegiatan berleha-leha secara serius (serious leisure). Rioux sendiri menawarkan meta-teori tentang keadilan sosial (social justice) dengan alasan bahwa penelitian perpustakaan yang ia lakukan selama ini memang menyangkut masalah sosial seperti kerbersamaan (inclusiveness), kehidupan berwarga-negara (civic- mindedness), dan kepedulian terhadap kaum miskin atau mereka yang terpinggirkan (the poor and under-served).

Penggunaan meta-teori di IP&I dengan meminjam dari bidang lain seperti di atas sebenarnya amat biasa dalam perkembangan ilmu manapun. Pada umumnya peminjaman ini adalah dari ilmu-ilmu yang sudah mapan dan terintegrasi, misalnya sosiologi dan psikologi. Seringkali apa yang dipinjam sebagai meta-teori itu di ilmu asalnya disebut juga sebagai “teori utama” (grand theory)14. Misalnya, Rao dan Bargerstock (2011) menyebut teori strukturasi Anthony Giddens sebagai meta-teori dalam penelitian mereka tentang sistem informasi, sementara di sosiologi teori tersebut tergolong teori utama. Tague-Sutcliffe (1995) meminjam teori psikologi linguistik dari G. Lakoff tentang “makna” untuk mengembangkan penelitian untuk mengukur informasi dan kinerja sistem temu-kembali. Memang, penelitian bibliometrika dan temu-kembali informasi seringkali meminjam teori utama di ilmu matematika dan linguistik formal sebagai bagian dari meta-teori. Misalnya Liu dan Croft (2005) menggunakan teori statistical language modeling untuk memahami ketidakteraturan penggunaan bahasa yang amat memengaruhi kinerja sistem informasi. Demikian pula Khoo dan Na (2006) menjelaskan bagaimana teori relasi semantik (semantic relations) membantu peneliti memahami kinerja sistem temu kembali dari sisi pemahaman bahasa oleh komputer, terutama di tengah perkembangan hypertext dan web-based information system pada umumnya.

Contoh lain tentang peminjaman teori ini terlihat jelas dalam perkembangan apa yang disebut “informatika sosial” (social informatics). Sebagaimana dikatakan Sawyer (2005), informatika sosial merupakan kajian tentang perancangan (disain), penerapan, dan penggunaan teknologi informasi dalam konteks sosial, kultural, dan organisasional. Almarhum Rob Kling adalah salah satu tokoh aliran ini (lihat Kling dan Scacchi, 1982; Kling dan Iacono, 1994)15. Para peneliti dari aliran ini seringkali bersikap kritis terhadap teknologi informasi, khususnya karena kehadiran teknologi informasi ini sudah demikian meluas dan digerakkan oleh kekuatan bisnis/komersial

Jelaslah bahwa aliran ini mendapat pengaruh pandangan dari ilmu sosiologi yang disebut teori sosio-teknis16 selain menggunakan Teori Kritis untuk melihat teknologi sebagai bagian dari ekonomi dan kekuasaan di sebuah masyarakat.

Dari pembahasan sekilas di atas, maka jelaslah bahwa keragaman penggunaan teori di dalam penelitian IP&I disebabkan oleh penggunaan meta-teori yang beragam pula, dan sebagian besar (kalau tak dapat dikatakan seluruhnya) pembahasan meta-teoritis di IP&I mengandung upaya meminjam” teori-teori ilmu lain. Sekali lagi, kita dapat bertanya: apakah hal ini merupakan kelemahan IP&I atau justru membuktikan kekokohannya sebagai ilmu yang melibatkan banyak disiplin? Untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus melanjutkan pembicaraan ke aspek paling dasar yang sudah tergambar selintas dari tabel di atas, yaitu aspek filsafat ilmu. Untuk membahas filsafat ilmu, kita perlu mengulas aspek epistemologi, sekaligus sifat litas-disiplin yang tampaknya menjadi ciri IP&I selanjutnya.
« Prev Post Next Post » Beranda

Tokoh Penemu Terpilih

Artikel Menarik !

 
"Indahnya Berbagi Walau Hanya Selembar Kertas Bekas"
hibahkan Skripsi, Tesis, Jurnal, Buku, untuk disalurkan ke yang membutuhkan melalui website kami. dengan cara mengrimkan softcopy ke email: bukukerjakita@gmail.com

COPYRIGHT © 2014. ALL RIGHTS RESERVED
[Valid Atom 1.0]