Home » , » Mengenal Istilah Tokoh dalam Karya Fiksi

Mengenal Istilah Tokoh dalam Karya Fiksi

Ada beberapa pendapat tentang pengertian lain mengenai tokoh. Sudjiman (1984: 16) menyatakan bahwa tokoh adalah individu rekaan yang mengalami berbagai peristiwa cerita dan berfungsi sebagai penggerak cerita. Senada dengan itu, Sumardjo dan Saini (2001: 144) menjelaskan tokoh adalah orang yang mengambil bagian dan mengalami peristiwa, sebagaimana peristiwa yang digambarkan dalam sebuah alur. Dari pengertian tersebut, peranan tokoh sangat berpengaruh dalam perjalanan peristiwa dalam sebuah karya fiksi. Peristiwa dalam kehidupan sehari-hari selalu diemban oleh tokoh-tokoh tertentu, pelaku mengamban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita melalui tokoh-tokohnya.

Tokoh dapat dibedakan menjadi beberapa jenis. Dikaji dari keterlibatannya dalam keseluruhan cerita, tokoh fiksi menurut Sayuti (2000: 74) dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sentral (utama) dan tokoh tambahan (bawahan peripheral). Tokoh utama atau tokoh sentral adalah tokoh yang mengambil bagian terbesar dalam peristiwa cerita, dengan kata lain tokoh utama merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan. Volume kemunculan tokoh utama lebih banyak dibanding tokoh lain, sehingga tokoh utama biasanya, memegang peranan penting dalam setiap peristiwa yang diceritakan. Kemudian tokoh tambahan atau tokoh bawahan adalah tokoh yang dimunculkan sekali atau beberapa kali (peripheral character), tokoh-tokoh yang mendukung atau membantu tokoh sentral.

Berdasarkan watak tokoh dibedakan menjadi dua bagian, yaitu tokoh statis atau tokoh datar (flat characterization) dan tokoh dinamis, tokoh berkembang atau tokoh bulat (rounded characterization) (Wellek dan Warren, 1989: 288). Sayuti (2000: 76) menjabarkan, berdasarkan watak tokoh dapat dibedakan menjadi dua, yaitu tokoh sederhana dan tokoh kompleks. Tokoh sederhana yaitu tokoh yang diungkapkan atau disoroti dari satu segi watak saja. Tokoh ini bersifat statis, wataknya sedikit sekali berubah, atau bahkan tidak berubah sama sekali (misalnya tokoh kartun, kancil, film animasi), sedangkan tokoh kompleks yaitu tokoh yang seluruh segi wataknya diungkapkan. Tokoh ini sangat dinamis, banyak mengalami perubahan watak.

Tokoh-tokoh yang ada dalam karya sastra kebanyakan berupa manusia, atau makhluk lain yang mempunyai sifat seperti manusia. Artinya, tokoh cerita itu haruslah hidup secara wajar mempunyai unsur pikiran atau perasaan yang dapat membentuk tokoh-tokoh fiktif secara meyakinkan sehingga pembaca merasa seolah-olah berhadapan dengan manusia sebenarnya. Pernyataan itu diperkuat oleh Sayuti (2000: 68) yang mengatakan bahwa tokoh merupakan pelaku rekaan dalam sebuah cerita fiktif yang memiliki sifat manusia alamiah, dalam arti bahwa tokoh-tokoh itu memiliki “kehidupan” atau berciri “hidup” tokoh memiliki derajat lifelikeness “kesepertihidupan”. Karena karya fiksi merupakan hasil karya imajinatif atau rekaan, maka penggambaran watak tokoh cerita pun merupakan sesuatu yang artifisial, yakni merupakan hasil rekaan dari pengarangnya yang dihidupkan dan dikendalikan sendiri oleh pengarangnya. Pengarang tidak serta merta menciptakan dunia di luar logika para pembaca. Artinya pengarang memakai nama latar, peristiwa dan tokoh seperti keberadaannya di dunia nyata. Penciptaan tokoh oleh pengarang haruslah yang benar-benar seperti manusia.

Pada perkembangan karya sastra modern terdapat penciptaan tokoh yang dinilai tidak logis atau inkonvensional. Mengenai karya fiksi inkonvensional, seperti yang diungkapkan Iwan Simatupang bahwa tokoh adalah fragmen atau aspek tertentu saja dari tokoh sebenarnya. Tokoh-tokoh tidak diperlukan yang penting adalah situasi. Tanpa tokoh, tanpa manusia, situasi semakin padat dirasakan. Situasi telah mengusir tokoh-tokoh dalam sastra modern (Hoerip, 1982: 26).

Pendapat ini tidak cocok bagi karya fiksi konvensional sebab dalam karya fiksi yang umum tokoh cerita merupakan hal yang vital. Dari tokohlah unsur yang hendak disajikan oleh pengarang dapat diketahui. Tokoh cerita menjadi unsur yang penting dan erat hubungannya dengan fiksi yang lain. Tokoh cerita juga menempati posisi strategis sebagai pembawa pesan, amanat, moral, atau sesuatu yang sengaja ingin disampaikan pengarang.

Bagaimana penulis menggambarkan karakter tokoh utama dalam novel ini sehingga watak-watak tokoh sesuai dengan cerita tema, dan amanat yang ingin disampaikan oleh pengarang. Peristiwa dalam karya fiksi selalu dipengaruhi oleh tokoh-tokoh yang diceritakan mengalami kejadian keseharian. Tokoh-tokoh yang diangkat sebagai pelaku jalannya cerita mengalirkan arus dan membawa cerita ke dalam awal, klimaks hingga akhir.

Menurut Aminuddin (1987 : 79), “Pelaku yang mengemban peristiwa dalam cerita fiksi sehingga peristiwa itu mampu menjalin suatu cerita disebut dengan tokoh, sedangkan cara pengarang menampilkan tokoh atau pelaku itu disebut dengan penokohan”. Cara pengarang menampilkan tokohnya dari berbagai peristiwa itu berbeda-beda.

Untuk memahami seluk beluk novel, fungsi tokoh utama sangat penting. Pembaca mengikuti alur cerita karena mengikuti gerak tokoh utama cerita. Penokohan biasanya digambarkan dari penggabungan minat, keinginan, emosi, dan moral yang membentuk individu dalam suatu cerita. Setiap pengarang ingin menunjukkan tokoh-tokoh yang ditampilkan dan secara tidak langsung ingin menyampaikan sesuatu dari tokoh-tokoh yang ditampilkannya pula (M. Atar Semi, 1988).

Berdasarkan deskripsi di atas dapat disimpulkan, tokoh merupakan karakter yang diciptakan oleh pengarang berdasarkan sifat kemanusiaannya. Sebuah cerita tidak mungkin hidup tanpa adanya tokoh pemeran di dalamnya, karena pada dasarnya cerita adalah gerak dan laku dari tokoh. Tanpa ada pelaku yang melakukan perbuatan, segalanya tidak mungkin terjadi. Peristiwa-peristiwa yang terjadi merupakan akibat dari gerak laku atau aksi tokoh-tokoh dalam cerita. Peristiwa yang dimunculkan pengarang sangat dipengaruhi oleh munculnya tokoh dengan berbagai karakternya.

Pendekatan objektif adalah pendekatan yang memfokuskan perhatian kepada sastra itu sendiri. Pendekatan ini memandang karya sastra sebgai struktur yang otonom dan bebas dari hubungannya dengan realitas, pengarang, maupun pembaca. Wellek & Warren dalam Wiyatmi (2006:87) menyebutkan pendekatan ini sebagai pendekatan intrinsik karya sastra yang dipandang memiliki kebulatan, koherensi, dan kebenaran sendiri.

Dalam meneliti sebuah karya sastra diperlukan pendekatan, dalam penulisan ini digunakan pendekatan struktural. Jika peneliti sastra ingin
mengetahui sebuah makna dalam sebuah karya sastra maka peneliti harus menganalisis aspek yang membangun karya tersebut dan menghubungkan dengan aspek lain sehingga makna yang terkandung dalam sebuah karya sastra mampu dipahami dengan baik. Pendekatan struktural melihat karya sastra sebagai satu kesatuan makna secara keseluruhan.

Menurut Teeuw (1984:135), Pendekatan struktural mencoba menguraikan keterkaitan dan fungsi masing-masing unsur karya sastra sebagai kesatuan struktural yang bersama-sama menghasilkan makna menyeluruh. Pendekatan structural membongkar seluruh isi (unsur-unsur intrinsik di dalam novel) dan menghubungkan relevansinya antara unsur-unsur di dalamnya.
« Prev Post Next Post » Beranda

Tokoh Penemu Terpilih

Artikel Menarik !

 
"Indahnya Berbagi Walau Hanya Selembar Kertas Bekas"
hibahkan Skripsi, Tesis, Jurnal, Buku, untuk disalurkan ke yang membutuhkan melalui website kami. dengan cara mengrimkan softcopy ke email: bukukerjakita@gmail.com

COPYRIGHT © 2014. ALL RIGHTS RESERVED
[Valid Atom 1.0]