Home » , » Hakikat Novel sebagai Karya Sastra

Hakikat Novel sebagai Karya Sastra

Dalam kesusastraan dikenal berbagai macam jenis sastra (genre). Sejak Plato dan Aristoteles membagi karya sastra menjadi tiga kategori (Wellek dan Warren, 1984: 300) yakni, puisi, prosa dan drama, kini ketiga genre sastra tersebut merupakan genre sastra secara garis besar. Menurut Nurgiyantoro (1995 : 1), dunia kesusastraan mengenal prosa (Inggris: prose) sebagai salah satu genre sastra di samping genre-genre yang lain. Prosa dalam pengertian kesusastraan juga disebut fiksi (fiction), teks naratif (narrative text) atau wacana naratif (narrative discourse). Istilah fiksi dalam pengertian ini berarti cerita rekaan (disingkat: cerkan) atau cerita khayalan. Bentuk karya fiksi yang berupa prosa adalah novel dan cerpen.
Kata novel berasal dari kata Latin novellas yang diturunkan pula dari kata novies yang berarti baru. Dikatakan “baru” karena jika dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi, drama, dan lain-lain, jenis novel ini muncul kemudian (Tarigan, 1991: 164). Dalam sastra Indonesia, pada angkatan 45 dan seterusnya, jenis prosa fiksi yang disebut roman lazim dinyatakan sebagai novel (Waluyo, 2002: 2). Dengan demikian, untuk selanjutnya penyebutan istilah novel di samping mewakili pengertian novel yang sebenarnya, juga mewakili roman.

Novel menurut Stanton (2007: 90) mampu menghadirkan perkembangan satu karakter, situasi sosial yang rumit, hubungan yang melibatkan banyak atau sedikit karakter, dan bebagai peristiwa rumit yang terjadi beberapa waktu silam secara lebih mendetail. Dengan demikian dalam novel, pelukiskan tentang perkembangan watak tokoh digambarkan secara lebih lengkap. Novel menawarkan sebuah dunia, dunia imajinatif, yang menampilkan rangkaian cerita kehidupan seseorang yang dilengkapi dengan peristiwa, permasalahan, dan penonjolan watak setiap tokohnya.

Novel (cerita rekaan) dapat dilihat dari beberapa sisi. Sayuti (2000: 8-10) berpendapat bahwa jika ditinjau dari panjangnya, novel pada umumnya terdiri dari lima belas ribu hingga empat puluh lima ribu kata. Berdasarkan sifatnya, novel (cerita rekaan) bersifat expands, ‘meluas’ yang menitikberatkan pada complexity. Sebuah novel tidak akan selesai dibaca sekali duduk, hal ini berbeda dengan cerita pendek. Dalam novel (cerita rekaan) juga dimungkinkan adanya penyajian panjang lebar tentang tempat atau ruang. Sementara itu, menurut Tarigan (1991: 165), jika ditinjau dari segi jumlah kata, biasanya novel mengandung kata-kata yang berkisar antara 35.000 buah sampai tak terbatas. Novel yang paling pendek itu harus terdiri minimal 100 halaman dan rata-rata waktu yang dipergunakan untuk membaca novel minimal 2 jam. Lebih lanjut dikemukakan oleh Nurgiyantoro (1995: 11) , jika dilihat dari segi panjang cerita, novel (jauh) lebih panjang daripada cerpen. Oleh karena itu, novel dapat mengemukakan sesuatu secara bebas, menyajikan sesuatu secara lebih banyak, lebih rinci, lebih detil, dan lebih banyak melibatkan permasalahan yang lebih kompleks.

Cerita rekaan atau novel adalah salah satu genre sastra yang dibangun oleh beberapa unsur. Sesuai dengan pendapat Waluyo (2002: 136) yang menyatakan bahwa cerita rekaan (dalam hal ini novel) adalah wacana yang dibangun oleh beberapa unsur. Unsur-unsur itu membangun suatu kesatuan, kebulatan, dan regulasi diri atau membangun sebuah struktur. Struktur dalam novel merupakan susunan unsur-unsur yang bersistem, yang antara unsur-unsurnya terjadi hubungan timbal balik, saling menentukan untuk membangun kesatuan makna. Unsur-unsur itu bersifat fungsional, artinya dicipta pengarang untuk mendukung maksud secara keseluruhan dan maknanya ditentukan oleh keseluruhan cerita itu.
Menurut Waluyo secara garis besar, unsur novel tersebut dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu unsur intrinsik dan ekstrinsik. Unsur intrinsik adalah unsur-unsur membangun karya sastra itu sendiri. Unsur-unsur inilah yang menyebabkan karya sastra hadir sebagai karya sastra, unsur-unsur yang secara faktual akan dijumpai jika orang membaca karya sastra. Unsur ekstrinsik adalah unsur-unsur yang berada di luar karya sastra itu, tetapi secara tidak langsung memengaruhi bangunan atau sistem organisme karya sastra. Atau secara lebih khusus, sebagai unsur-unsur yang mempengaruhi bangun cerita sebuah karya sastra, namun sendiri tidak ikut menjadi bagian di dalamnya. Wellek dan Warren (1989: 24) menyatakan bahwa unsur ekstrinsik adalah keadaan subjektivitas individu pengarang yang memiliki sikap, keyakinan, dan pandangan hidup yang kesemuanya itu akan mempengaruhi karya sastra yang ditulisnya. Pendek kata, unsur biografi pengarang akan turut menentukan corak karya yang dihasilkannya. Keadaan lingkungan pengarang seperti ekonomi, politik, dan sosial juga akan berpengaruh terhadap karya sastra, dan hal itu merupakan unsur ekstrinsik pula.

Unsur intrinsik sebuah novel adalah unsur-unsur yang secara langsung turut serta membangun cerita. Untuk memahami makna dalam teks sastra (novel) dalam kaitannya sebagai pembangun cerita, unsur-unsur intrinsik inilah yang membuat sebuah novel berwujud. Oleh karena itu, untuk memahami maknanya, karya sastra harus dikaji berdasarkan karya sastra itu sendiri, lepas dari latar belakang sejarah, lepas dari niat penulis, dan lepas pula dari efeknya pada pembaca.
Berdasarkan pendapat di atas, sebagai sebuah struktur, karya sastra (novel) dapat dianalisis melalui unsur-unsur pendukungnya. Seperti apa yang dikatakan Sayuti (2000: 10) tentang novel yang bersifat complexity. Kompleksitas tersebut tidak akan terwujud tanpa adanya unsur-unsur instrinsik yang mendukung penceritaan di dalamnya. Dalam analisis teks naratif (novel), unsur-unsur tersebut terbagi dalam elemen-elemen pembangun fiksi. Menurut Stanton (2007: 22) dan Sayuti (2000: 29) terdapat tiga bagian elemen pembangun prosa, yakni 1) fakta cerita meliputi plot, tokoh, dan latar, 2) sarana cerita meliputi sudut pandang dan gaya bahasa, dan 3) tema.

Secara umum, alur atau plot merupakan rangkaian peristiwa-peristiwa dalam sebuah cerita. Istilah alur biasanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang terhubung secara kausal saja. Peristiwa kausal merupakan peristiwa yang menyebabkan atau yang menjadi dampak dari berbagai peristiwa lain yang tidak dapat diabaikan karena akan berpengaruh pada keseluruhan karya (Stanton, 2007:
26). Dengan demikian, alur adalah rangkaian peristiwa dalam cerita yang merupakan peralihan dari keadaan (konflik) yang satu ke keadaan yang lain yang ditandai oleh puncak atau klimaks dari perbuatan dramatis.
Terdapat beberapa teknik dalam melukiskan alur. Stanton (2007: 28) mengatakan, alur hendaknya memiliki bagian awal, tengah, dan akhir yang nyata, meyakinan dan logis, dapat menciptakan bermacam-macam kejutan, dan memunculkan sekaligus mengakhiri ketegangan-ketegangan. Alur yang diungkapkan Stanton tersebut disebut alur maju atau progresif. Satoto (1993: 28-29) menambahkan, alur sorot balik (flashback), yaitu urutan tahapannya dibalik seperti halnya regresif. Teknik flashback jelas mengubah teknik pengaluran dari yang progresif ke regresif. Berbeda dengan teknik tarik balik (backtracking), jenis pengalurannya tetap progresif, hanya saja pada tahap-tahap tertentu, peristiwanya ditarik ke belakang. Jadi yang ditarik kebelakang hanya peristiwanya (mengenang peristiwa yang lalu) tetapi alurnya tetap alur maju atau progresif.
Dalam fiksi, istilah “tokoh” menunjuk pada orangnya, pelaku cerita, sedangkan watak, perwatakan, dan karakter, menunjuk pada sifat dan sikap para tokoh seperti yang ditafsirkan oleh pembaca, lebih menunjuk pada kualitas pribadi seorang tokoh (Nurgiyantoro, 1995: 165). Penokohan atau karakterisasi adalah cara penggambaran watak tokoh dalam karya fiksi. Menurut Sayuti (2000: 89- 111) cara pengarang menggambarkan tokoh dalam sebuah cerita dapat dilakukan dengan berbagai metode, (1) metode diskursif/langsung, (2) metode dramatis, (3) metode kontekstual, dan (3) metode campuran.

Dalam karya sastra, latar tidak mesti realitas obyektif tetapi dapat jadi realitas imajinatif, artinya latar yang digunakan hanya ciptaan pengarang dan kalau dilacak kebenarannya tidak akan pernah ditemukan. Sudjiman (1988: 44) menyatakan bahwa latar mengacu pada segala keterangan, petunjuk yang berkaitan dengan waktu, tempat atau ruang dan suasana terjadinya peristiwa baik yang digambarkan secara terperinci atau secara sketsa.

Tema adalah apa yang menjadi masalah dalam sebuah karya sastra. Masalah-masalah yang diangkat dalam tema mempunyai suatu yang netral karena di dalam tema belum ada sikap dan kecenderungan untuk menindak. Adanya tema akan membuat karya sastra lebih penting dari sekedar bacaan biasa. Pembicaraan mengenai tema mencakup permasalahan dalam cerita. Menurut Stanton (2007: 44-
45), tema hendaknya memenuhi kriteria-kriteria berikut:
  1. Interpretasi yang baik hendaknya selalu menpertimbangkan berbagai detail menonjol dalam sebuah cerita. Kriteria ini adalah yang paling penting.
  2. Interpretasi yang baik hendaknya tidak terpengaruh oleh berbagai detail cerita yang saling berkontradiksi.
  3. Interpretasi yang baik hendaknya tidak sepenuhnya tidak bergantung pada bukti-bukti yang tidak secara jelas diutarakan (hanya secara implisit).
  4. Terakhir, interpretasi yang dihasilkan hendaknya diujarkan secara jelas oleh cerita bersangkutan.

Sudut pandang dalam suatu novel mempersoalkan (1) siapakah narator dalam cerita dan apa serta bagaimana relasinya dengan seluruh proses tindak tanduk tokoh, (2) bagaimana pandangan hidup penulis terhadap masalah yang digarapnya. Sudut pandang ini dipakai untuk melihat seluruh persoalan guna menentukan sikap dan juga pemecahannya. Menurut Hartoko & Rahmanto (1986:
18) sudut pandang adalah kedudukan atau tempat atau posisi berpijak juru cerita terhadap ceritanya atau darimana melihat peristiwa-peristiwa yang terdapat dalam ceritanya itu. Dari sudut pandang pengarang inilah pembaca mengikuti jalannya cerita dan memahami temanya. Pendek kata, sudut pandang menyaran pada cara sebuah cerita dikisahkan. Sudut pandang secara garis besar dapat dibedakan menjadi dua pola utama, yaitu orang pertama (first person), atau gaya “aku” dan sudut pandang orang ketiga (third person) atau gaya “dia” (Nurgiyantoro, 1995:249).

Dalam sastra, gaya adalah cara pengarang dalam menggunakan bahasa. Meski dua orang pengarang memakai alur, karakter dan latar yang sama, hasil tulisan keduanya bisa sangat berbeda. Perbedaan tersebut secara umum terletak pada bahasa dan penyebar dalam berbagai aspek seperti kerumitan, ritme, panjang-pendek kalimat, detail, humor, kekonkretan, dan banyaknya imaji dan metafora. Campuran dari berbagai aspek di atas (dengan kadar tertentu) akan menghasilkan gaya (Stanton, 2007: 61).

Gaya bahasa adalah tingkah laku pengarang dalam menggunakan bahasa. Menurut Abrams (melalui Nurgiyantoro, 1995: 9) gaya bahasa adalah cara penggunaan bahasa oleh pengarang dalam mengungkapkan ide atau tema yang diajukan dalam karya sastra. Gaya bahasa itu sendiri ditandai ciri-ciri formal kebahasaan seperti diksi, majas, nada, pola, intonasi, struktur kalimat, pencitraan dan mantra. Satu elemen yang amat terkait dengan gaya adalah tone atau nada. Tone adalah sikap emosional pengarang yang ditampilkan dalam cerita. Tone bisa menampak dalam berbagai wujud, baik yang ringan, romantis, ironis, misterius, senyap, bagai mimpi, atau penuh perasaan (Stanton, 2007: 63).

Dalam menampilkan karakter dalam novel, tidak keseluruhan unsur karya sastra digunakan. Dalam hal ini unsur yang digunakan pengarang untuk menampilkan karakter adalah tokoh, dengan metode yang dinamakan karakterisasi.
« Prev Post Next Post » Beranda

Tokoh Penemu Terpilih

Artikel Menarik !

 
"Indahnya Berbagi Walau Hanya Selembar Kertas Bekas"
hibahkan Skripsi, Tesis, Jurnal, Buku, untuk disalurkan ke yang membutuhkan melalui website kami. dengan cara mengrimkan softcopy ke email: bukukerjakita@gmail.com

COPYRIGHT © 2014. ALL RIGHTS RESERVED
[Valid Atom 1.0]