Home » , , , » SKRIPSI | Pengaruh Jenis Industri Terhadap Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial (Csr Disclosure) Pada Laporan Tahunan Perusahaan

SKRIPSI | Pengaruh Jenis Industri Terhadap Luas Pengungkapan Tanggung Jawab Sosial (Csr Disclosure) Pada Laporan Tahunan Perusahaan

Tanggung jawab sosial tidak dapat dipisahkan dari Good Corporate Governance (GCG) karena pelaksanaan Corporate Social Responsibility (CSR) merupakan salah satu prinsip yang berpengaruh dalam GCG. Pada dasarnya ada lima prinsip dalam GCG, yaitu Transparansi, Akuntabilitas, Responsibilitas, Independensi, dan Kesetaraan dan Kewajaran. Prinsip yang berkaitan erat dengan CSR adalah Responsibilitas yang merupakan aspek pertanggungjawaban dari setiap kegiatan perusahaan untuk melaksanakan prinsip Corporate Social Responsibility karena dalam berusaha, sebuah perusahaan tidak akan lepas dari masyarakat sekitar, ditekankan juga pada dunia usaha kepada kepentingan pihak-pihak eksternal dimana perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholder perusahaan, menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa, dan memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Diluar itu, lewat prinsip responsibility diharapkan perusahaan dapat membantu pemerintah dalam mengurangi kesenjangan pendapatan dan kesempatan kerja pada segmen masyarakat yang belum mendapatkan manfaat dari mekanisme pasar. Corporate Social Responsibility sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada tanggungjawab yang berpijak pada single bottom line yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang direfleksikan dalam kondisi keuangannya saja tetapi harus berpijak pada triple bottom lines, dimana

bottom lines selain aspek finansial juga terdapat aspek sosial dan lingkungan. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi keuangan saja tak cukup menjamin nilai perusahaan tumbuh secara berkelanjutan (sustainable). Berdasarkan standar dari Bank Dunia, terdapat beberapa komponen utama dalam CSR yang meliputi: 
(1) perlindungan lingkungan, 
(2) jaminan kerja, 
(3) Hak Asasi Manusia, 
(4) interaksi dan keterlibatan perusahaan dengan masyarakat, 
(5) standar usaha, 
(6) pasar, 
(7) pengembangan ekonomi dan badan usaha, 
(8) perlindungan kesehatan, 
(9) kepemimpinan dan pendidikan, dan 
(10) bantuan bencana kemanusiaan. 

Bagi perusahaan yang berupaya untuk membangun citra positif perusahaannya, maka kesepuluh komponen tersebut harus diupayakan pemenuhannya. Dalam era reformasi yang ditunjukkan dengan semakin meningkatnya keterbukaan (transparancy), seharusnya kepedulian perusahaan terhadap lingkungannya semakin meningkat. Perusahaan yang tidak memiliki kepedulian sosial dengan lingkungan sekitarnya akan banyak menemui berbagai kendala seperti seringnya masyarakat sekitar berunjuk rasa, bahkan ada perusahaan yang terpaksa ditutup oleh pihak yang berwenang. Perusahaan yang memiliki kinerja lingkungan yang baik merupakan berita baik bagi investor dan calon investor. Perusahaan yang memiliki tingkat kinerja lingkungan yang tinggi akan direspon secara positif oleh investor melalui fluktuasi harga saham perusahaan. Harga saham perusahaan secara relatif dalam industri yang bersangkutan merupakan cerminan pencapaian kinerja ekonomi perusahaan. Begitu pula dengan pengungkapan informasi lingkungan perusahaan manufaktur yang dinilai sebagai

perusahaan berisiko lingkungan yang tinggi, perusahaan dengan pengungkapan informasi lingkungan yang tinggi dalam laporan keuangannya akan lebih dapat diandalkan, laporan keuangan yang handal tersebut akan berpengaruh secara positif terhadap kinerja ekonomi, dimana investor akan merespon secara positif dengan fluktuasi harga pasar saham yang semakin tinggi, dan begitu pula sebaliknya (Saputra dan Maksum, 2007). Lebih lanjut Raka (2001) menyatakan bahwa perusahaan bukanlah mesin pencetak keuntungan bagi pemiliknya, melainkan sebuah entitas untuk menciptakan nilai bagi semua pihak yang berkepentingan. Selain itu, perusahaan bukanlah sekedar mesin yang mengubah input menjadi output, melainkan sebuah lembaga insan (human institution), sebuah masyarakat yang punya nilai, cita-cita, jati diri, dan tanggung jawab sosial. 

Tuntutan terhadap perusahaan untuk memberikan informasi yang transparan, organisasi yang akuntabel serta tata kelola perusahaan yang semakin baik semakin memaksa perusahaan untuk memberikan informasi mengenai aktivitas sosialnya. Dalam menghadapi tekanan tersebut, maka perusahaan diminta agar dapat memberikan informasi mengenai perusahaannya dengan lebih transparan melalui laporan tahunan atau laporan sosial yang terpisah sehingga diharapkan dapat menjadi media komunikasi antara perusahaan dengan masyarakat. Menyadari hal itu kalangan perusahaan tidak berdiam diri, sebagian perusahaan mulai mempertanggungjawabkan atas penggunaan sumber daya yang diambil dari masyarakat kepada lingkungan sosialnya. Sebagai upaya untuk menunjukkan tingkat pertanggungjawabannya, perusahaan mulai memberikan penjelasan dan pelaporan kepada masyarakat mengenai berbagai aktivitas sosial

dan lingkungannya, baik melalui media ekstern yang dikeluarkan oleh pihak ketiga maupun media internal (termasuk laporan keuangan) yang dikeluarkan oleh perusahaan sendiri. Standar Akuntansi Keuangan yang dikeluarkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI), secara implisit juga telah mengakomodasi hal tersebut. Misalnya sebagaimana tertulis dalam Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) no 1 (revisi 1999) paragraf kesembilan: 
“Perusahaan dapat pula menyajikan laporan tambahan seperti laporan mengenai lingkungan hidup dan laporan nilai tambah (value added statement), khususnya bagi industri dimana faktor-faktor lingkungan hidup memegang peranan penting dan bagi industri yang menganggap pegawai sebagai kelompok pengguna yang memegang peranan penting.” 
Berdasarkan pernyataan tersebut, Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia belum mewajibkan perusahaan untuk mengungkapkan informasi sosial terutama informasi mengenai tanggung jawab perusahaan terhadap lingkungan. Oleh karena itu, perusahaan akan mempertimbangkan biaya dan manfaat yang akan diperoleh ketika mereka memutuskan untuk mengungkapkan informasi social melalui laporan tambahan. Bila manfaat yang akan diperoleh dengan pengungkapan informasi tersebut lebih besar dibandingkan biaya yang dikeluarkan untuk mengungkapkannya maka perusahaan akan dengan sukarela mengungkapkan informasi tersebut. Adapun salah satu jenis laporan terpisah yang dikeluarkan oleh perusahaan yang memberikan informasi tentang pengungkapan sukarela (voluntary

disclosure) yang sering diminta untuk diungkapkan perusahaan saat ini adalah informasi tentang tanggung jawab sosial. Pengungkapan sukarela muncul karena adanya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan sekitar, keberhasilan perusahaan tidak hanya pada menghasilkan laba saja tetapi ditentukan juga oleh kepedulian perusahaan terhadap lingkungan masyarakat sekitar (Yuliani, 2003). Pengungkapan kinerja lingkungan, sosial, dan ekonomi di dalam laporan tahunan atau laporan terpisah adalah untuk mencerminkan tingkat akuntabilitas, responsibilitas, dan transparansi perusahaan kepada investor dan stakeholders lainnya (Novita dan Djakman, 2008). 

Pengungkapan tersebut bertujuan untuk menjalin hubungan komunikasi yang baik dan efektif antara perusahaan dengan publik dan stakeholders lainnya tentang bagaimana perusahaan telah mengintegrasikan CSR. Penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Suripto (2000) menggunakan variabel industri yang dikelompokkan ke dalam perusahaan bank dan non bank, hasilnya tidak signifikan. Subiyantoro (dalam Rahayu, 2006) menggunakan variabel industri yang dikelompokkan ke dalam perusahaan manufaktur dan non manufaktur, tetapi hasilnya tidak signifikan. Dalam penelitian Rahayu (2006) memasukkan variabel industri yang dikelompokkan ke dalam perusahaan jasa dan non jasa (riil), hasilnya tidak signifikan. Sedangkan dalam penelitian Yuningsih (2003) dan Sembiring (2005) yang menggunakan variabel industri yang dikelompokkan dalam industri high profile dan low profile memberikan hasil yang signifikan. Hal tersebut dikarenakan perusahaan yang bertipe high profile dalam melakukan aktivitasnya banyak memodifikasi lingkungan, dan menimbulkandampak sosial yang negatif terhadap masyarakat, atau secara luas terhadap stakeholdersnya. Berdasarkan penelitian Hackston & Milne (dikutip oleh Sitepu dan Siregar, 2007) ukuran perusahaan dan tipe industri memiliki hubungan signifikan dengan pengungkapan informasi sosial, sebaliknya tidak ditemukan hubungan antara laba dengan pengungkapan informasi sosial. Fitriani (dikutip oleh Sitepu dan Siregar, 2007) menemukan bahwa pengungkapan informasi sosial dipengaruhi oleh size perusahaan, status perusahaan, profitabilitas dan KAP. 

Penelitian Sembiring (2005) menemukan bahwa ukuran perusahaan, profile dan ukuran dewan komisaris berpengaruh positif terhadap pengungkapan informasi sosial perusahaan, namun tidak menemukan hubungan signifikan antara profitabilitas dan leverage dengan pengungkapan informasi sosial. Anggraini (2006) menemukan hubungan signifikan antara persentase kepemilikan manajemen dengan pengungkapan informasi sosial, namun tidak berhasil membuktikan pengaruh ukuran perusahaan, leverage dan profitabilitas terhadap kebijakan pengungkapan informasi sosial oleh perusahaan. Penelitian ini mencoba melakukan analisis terhadap praktek pengungkapan sosial yang dilakukan oleh perusahaan pada setiap industri. 

Jenis industri digolongkan menjadi 9 jenis kelompok industri. Luas pengungkapan antar perusahaan dalam industri dengan industri lainnya berbeda-beda. Perbedaan ini disebabkan oleh kandungan resiko masing-masing industri yang berbeda, karena masing-masing industri memiliki karakteristik yang berbeda. Cooke (dalam Suripto, 2000) menyatakan bahwa luas pengungkapan dalam laporan tahunan mungkin tidak sama untuk semua sektor ekonomi, hal ini mungkin dikarenakan perbedaan sifat dan karakteristik industri. Sedangkan penelitian Gunawan (2002) membuktikan bahwa faktor kelompok industri mempengaruhi luas pengungkapan sukarela.

« Prev Post Next Post » Beranda

Tokoh Penemu Terpilih

Artikel Menarik !

 
"Indahnya Berbagi Walau Hanya Selembar Kertas Bekas"
hibahkan Skripsi, Tesis, Jurnal, Buku, untuk disalurkan ke yang membutuhkan melalui website kami. dengan cara mengrimkan softcopy ke email: bukukerjakita@gmail.com

COPYRIGHT © 2014. ALL RIGHTS RESERVED
[Valid Atom 1.0]